
Tarakan- Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang rutin digelar setiap tahun kembali menjadi sorotan utama Dinas Kesehatan. Guna memastikan program pencegahan penyakit menular ini tepat sasaran, rangkaian kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) digencarkan secara masif di berbagai satuan pendidikan tingkat dasar, kegiatan ini dilaksanakan di Dinas Kesehatan tanggal 27 Agustus 2026.
Berbagai tantangan menjadi bahan evaluasi dalam Monev ini, mulai dari tingginya angka ketidakhadiran siswa saat hari-H, penolakan orang tua, penjadwalan BIAS oleh sekolah dihari libur (sabtu) sehingga siswa tidak datang, adanya berita atau informasi hoax yang beredar di medsos terkait Imunisasi HPV yang menyatakan bahwa pemberian imunisasi tersebut dapat menyebabkan kemandulan pada perempuan dan lain-lainnya.
Kepala Bidang P2P, Rinny Faulina, SKM., M.Kes menyampaikan Puskesmas bisa membuat media KIE melalui video atau konten edukasi yang disebarkan melalui medsos yang materinya lebih menekankan untuk menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh orang tua murid yg menolak seperti, mengapa anak saya perlu diimunisasi lagi padahal waktu bayi sudah lengkap, dan menklarifikasi berita2 negatif atau yg tidak benar yang ada di medsos atau anggapan masyarakat. karena orang tua jaman now adalah orang tua yang melek terhadap AI, medsos dll
Pasca Rakor ini Dinkes akan melaksanakan advokasi kembali MUI, Paguyuban/Komite orang tua murid dan Para Pengambil Kebijakan untuk mendukung program Imunisasi sehingga ada regulasi yang mengatur tentang persyaratan masuk sekolah, salah satunya adalah harus ada Buku KMS.
Kami mengharapkan agar Dinas Pendidikan memfasilitasi kegiatan advokasi dan sosialisasi pentingnya imunisasi kepada orang tua melalui pertemuan komite orang tua murid atau paguyuban orang tua murid terutama sekolah yang angka penolakan imunisasinya masih tinggi.
DINKES